“Apakah semua orang Lombok beragama Islam?” “Lombok bersebelahan dengan Bali, mengapa bukan pulau Hindu?” “Saya sering melihat istilah Wetu Telu. Apa maksudnya?” Pertanyaan seperti ini biasanya muncul saat mencari tahu soal agama sebelum berangkat ke Lombok.
Singkatnya, sebagian besar penduduk Lombok beragama Islam, dan umat Hindu keturunan Bali tinggal mengelompok di bagian barat, yaitu Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Di Bayan, Lombok utara, diwariskan bentuk kepercayaan khas yang terkait erat dengan adat, yang dikenal sebagai Wetu Telu.
Artikel ini hanya memakai sumber yang kami buka dan periksa langsung: pemberitaan yang mengolah statistik pemerintah, jurnal dan tesis akademik, media Indonesia dan internasional, serta halaman badan pariwisata. Angka resmi persentase agama khusus Pulau Lombok tidak kami temukan, jadi kami memakai angka seluruh provinsi dan jumlah umat Hindu per kabupaten dan kota. Pandangan peneliti dan warga Bayan sendiri tentang Wetu Telu berbeda, dan perbedaan itu kami tuliskan apa adanya.
Artikel ini ditujukan bagi Anda yang berencana berwisata ke Lombok atau Kepulauan Gili dan ingin memahami agama di sana. Fokusnya pada agama itu sendiri, bukan rincian etika.
Informasi per Oktober 2026
Yang akan Anda ketahui dari artikel ini
- ✓Komposisi agama di Provinsi Nusa Tenggara Barat, termasuk Lombok, dan daerah yang banyak umat Hindunya
- ✓Mengapa Lombok dijuluki Pulau Seribu Masjid, dan bagaimana Islam masuk
- ✓Apa itu Wetu Telu, dan beda penjelasan dari luar dengan penjelasan warganya sendiri
- ✓Pura Hindu di bagian barat, seperti Pura Meru dan Pura Lingsar, dan sejarahnya
- ✓Perbedaan dengan Bali, dan hal yang perlu diperhatikan wisatawan
Kesimpulan
Di Nusa Tenggara Barat, provinsi tempat Lombok berada, data pemerintah tahun 2024 menunjukkan 96,91% penduduk beragama Islam dan 2,36% Hindu. Sebagian besar umat Hindu tinggal di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, tempat pura dari masa kekuasaan kerajaan Bali pada abad ke-18 masih berdiri. Wetu Telu di Bayan, Lombok utara, dalam penelitian dijelaskan sebagai perpaduan Islam dan kepercayaan lokal, sementara warga Bayan sendiri menyebutnya cara berpikir, bukan agama, dan menyatakan mereka menjalankan rukun Islam, sehingga tidak bisa disimpulkan dalam satu kata. Bila wisatawan memperhatikan pakaian, kunjungan ke masjid, azan, Ramadan, dan minuman beralkohol, hampir tidak akan ada masalah.
Apa agama penduduk Lombok?
Sebagian besar penduduk Lombok beragama Islam. Karena angka resmi khusus Pulau Lombok tidak kami temukan, kami melihat angka provinsinya, Nusa Tenggara Barat (Lombok dan Sumbawa). Menurut angka tahun 2024 yang diberitakan situs jurnalisme data Databoks berdasarkan data Kementerian Agama, dari sekitar 5,67 juta penduduk provinsi, 96,91% (sekitar 5,49 juta) beragama Islam, 2,36% (sekitar 134.000) Hindu, 0,3% Buddha, 0,25% Kristen Protestan, dan 0,18% Katolik.
Gambar: Komposisi agama di Provinsi Nusa Tenggara Barat (2024)
Tempat tinggal umat Hindu terlihat dari data Dukcapil Kementerian Dalam Negeri per kabupaten dan kota. Menurut angka per 31 Desember 2024 yang diberitakan Databoks, jumlah umat Hindu di lima kabupaten dan kota di Lombok adalah 63.067 jiwa di Kota Mataram, 38.656 jiwa di Kabupaten Lombok Barat, 9.078 jiwa di Kabupaten Lombok Utara, 2.996 jiwa di Kabupaten Lombok Tengah, dan 681 jiwa di Kabupaten Lombok Timur. Totalnya sekitar 114.000 jiwa, dan sekitar 90% di antaranya tinggal di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Sebaliknya, di Kabupaten Lombok Timur, 99,94% dari sekitar 1,43 juta penduduknya beragama Islam.
Gambar: Jumlah umat Hindu per kabupaten dan kota di Lombok (per 31 Desember 2024)
Dari sisi suku, sebagian besar penduduk pulau adalah orang Sasak, dengan orang Bali di bagian barat, orang Sumbawa di bagian timur, dan warga Tionghoa di Kota Mataram (Encyclopaedia Britannica). Sebagian besar orang Sasak beragama Islam, dan sebagian besar orang Bali beragama Hindu.
Mengapa Lombok dijuluki Pulau Seribu Masjid?
Lombok dikenal dengan julukan Pulau Seribu Masjid. Situs Sekretariat Kabinet juga memakai julukan ini untuk menggambarkan pulau tersebut dalam artikel tahun 2015 tentang penghargaan internasional yang diraih Lombok. Kata seribu bukan jumlah pasti, melainkan berarti sangat banyak.
Soal asal-usulnya, artikel penjelasan di situs berita Good News From Indonesia (Januari 2026) menyebut julukan ini bermula pada 1970-an, ketika Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama berkunjung ke pulau ini dan memperhatikan banyaknya masjid. Namun, sumber primer yang menguatkan hal ini tidak dapat kami temukan.
Artikel yang sama mengutip angka BPS tahun 2014: 5.348 masjid di seluruh provinsi, 1.460 di antaranya di Kabupaten Lombok Tengah (tabel aslinya tidak dapat kami lihat, dan angkanya sudah lebih dari sepuluh tahun lalu). Artikel itu juga menjelaskan bahwa masjid menjadi tempat anak-anak belajar mengaji dan tempat warga bermusyawarah.
Masjid yang paling mudah dijumpai wisatawan adalah Masjid Raya Hubbul Wathan di Islamic Center NTB, Kota Mataram. Menurut NU Online (Maret 2018), masjid ini dibuka untuk umum sejak 16 Desember 2016, dan menaranya setinggi 99 meter, Menara Asmaul Husna, bisa dinaiki dengan lift.
Pemberitaan yang sama menyebut pengunjung non-Muslim boleh masuk ke lantai dua masjid dengan mengenakan jubah penutup tubuh. Tarif naik menara pada 2018 adalah Rp10.000 untuk wisatawan asing dan Rp5.000 untuk wisatawan domestik, tetapi tarif dan ketentuan kunjungan saat ini tidak dapat kami pastikan.
Pada 2015, dalam World Halal Travel Summit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Lombok meraih peringkat pertama untuk kategori World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination (situs Sekretariat Kabinet, Oktober 2015).
Artikel Sekretariat Kabinet menyebut hotel dan bandara yang ramah Muslim, fasilitas ibadah, dan makanan halal sebagai keunggulan pulau ini.
Kapan dan dari mana Islam masuk ke Lombok?
Ada beberapa pendapat tentang waktu dan jalur masuknya Islam. Artikel tirto.id (April 2023), merangkum para peneliti, menyebut tiga pendapat: Islam masuk melalui perdagangan dengan saudagar Muslim pada abad ke-13 hingga ke-14; Sunan Prapen dari Jawa Timur membawanya pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17; dan saudagar serta pelaut Makassar membawanya dari timur melalui Sumbawa pada abad ke-16.
Menurut artikel yang sama, wilayah yang paling awal mendapat pengaruh Islam dan menjadi kerajaan Islam terbesar adalah Selaparang di timur, yang memeluk Islam pada akhir abad ke-16 dan mundur pada abad ke-18. Bayan di utara digambarkan dalam makalah jurnal Ulumuna (2005) sebagai pintu masuk tradisional Islam. Di Lingsar, bagian barat, masih berlangsung upacara yang terkait dengan Raden Mas Sumilir, ulama yang disebut membawa Islam dari Demak, Jawa Tengah, pada abad ke-15 (The Jakarta Post, 2010). Setiap bagian pulau punya kisahnya sendiri tentang kedatangan Islam.
Apa itu Wetu Telu?
Wetu Telu (juga ditulis Waktu Telu) adalah bentuk kepercayaan dan adat yang diwariskan terutama di kalangan warga Bayan, Lombok utara. Sebagai pembeda, praktik Islam pada umumnya yang menjalankan salat lima waktu disebut Waktu Lima. Namun, penjelasan tentang Wetu Telu sangat berbeda antara peneliti dan warganya sendiri.
Penjelasan akademik yang khas dapat ditemukan dalam makalah Ulumuna (2005). Makalah itu menggambarkan Wetu Telu sebagai perpaduan unsur Islam, Hindu, dan kepercayaan lokal. Untuk asal namanya, selain pendapat bahwa hanya tiga rukun yang dijalankan (syahadat, salat, dan puasa), makalah itu juga menyebut pendapat tentang tiga cara kehidupan lahir (melahirkan, bertelur, dan bertunas) serta tiga sumber (Al-Qur’an, hadis, dan ijmak).
Makalah yang sama menyebut urusan keagamaan terutama dijalankan oleh pemuka agama yang disebut kiai, dan salat yang mereka laksanakan antara lain salat Idulfitri, salat Iduladha, dan salat jenazah. Makalah itu juga menyebut istilah ini menonjol setelah 1890 di bawah pemerintahan Belanda, terkait kebijakan yang memisahkannya dari Islam ortodoks.
Warganya sendiri menjelaskan secara berbeda. Dalam artikel VICE (2017), seorang pemimpin di Bayan mengatakan telu (tiga) tidak merujuk pada jumlah salat, melainkan tiga alam: rahim ibu, dunia ini, dan akhirat. Ia membantah pandangan dari luar bahwa mereka hanya berpuasa sehari.
Dalam artikel yang sama, seorang warga muda Bayan mengatakan Wetu Telu bukan agama, melainkan cara berpikir, dan seorang pria yang menjadi pemandu mengatakan bahwa seperti banyak Muslim Sunni di Indonesia, mereka menjalankan rukun Islam, dan menjalankan agama serta adat secara terpisah. Antropolog Erni Budiwanti menyebut warga Bayan kini salat lima waktu, tetapi tidak meninggalkan adat lamanya.
Tesis magister di International Islamic University Malaysia (2024) melaporkan bahwa pandangan para penganutnya terbagi antara melihatnya sebagai tradisi Muslim dan sebagai salah satu bentuk Islam, dan ada yang menyatakan menjalankan kelima rukun Islam. Tesis itu berpendapat bahwa pembagian Wetu Telu dan Waktu Lima sejak zaman Belanda tidak memuat sudut pandang para penganutnya, dan bahwa budaya mereka tertekan oleh arus penyeragaman umat Islam. Praktik sehari-hari saat ini digambarkan berbeda-beda menurut sumbernya, dan artikel ini tidak menyimpulkannya.
Selain itu, artikel kiriman di sebuah situs berita Indonesia (2024) menyebut sebagian orang Sasak masih memegang kepercayaan dari masa sebelum Islam. Semua bentuk kepercayaan ini bukan tontonan wisata. Bila berkunjung ke Bayan atau tempat serupa, pergilah bersama pemandu setempat dan tanyakan di tempat apakah upacara boleh difoto dan apakah Anda boleh masuk. Cara mengunjungi desa adat Sasak dibahas di artikel tentang suku Sasak dan desa adat.
Mengapa umat Hindu banyak di bagian barat? Pura Meru dan Pura Lingsar
Umat Hindu banyak di bagian barat karena kerajaan-kerajaan Bali lama berkuasa di wilayah ini. Artikel tirto.id mengutip pandangan peneliti bahwa Selaparang kalah dalam perang tahun 1723 dan Lombok masuk ke dalam pengaruh politik Bali. Menurut Encyclopaedia Britannica, kekuasaan Bali mendirikan empat kerajaan di pulau ini, dan kekuasaan Bali berakhir ketika Belanda campur tangan pada 1894. Pura dan taman dari masa itu masih ada di sekitar Cakranegara, Kota Mataram.
Masa kekuasaan Bali, Perang Lombok 1894, serta peristiwa sebelum dan sesudahnya kami susun dalam dua linimasa, dari abad ke-13 sampai 2018, di artikel sejarah Pulau Lombok.
Pura Meru adalah pura Hindu terbesar di Lombok. Badan pariwisata Indonesia menyebutnya dibangun pada abad ke-18 dan memiliki tiga meru (menara beratap tumpang) yang melambangkan Trimurti. CNN Indonesia (2018) memberitakan bahwa pura ini dibangun oleh Anak Agung Ngurah Karangasem pada 1720, dan Taman Mayura di dekatnya dibuat oleh tokoh yang sama pada 1744.
Pura Lingsar di Lingsar, sekitar 9 km di timur Kota Mataram, adalah tempat yang langka: pura Hindu (Pura Gaduh) dan Kemaliq, tempat orang Sasak Muslim menjalankan ritual, berdiri berdampingan dalam satu kompleks. Menurut The Jakarta Post (2010), pura ini dibangun pada 1759 di masa Raja Anak Agung Gede Ngurah, dan kawasan di sekitarnya menjadi kawasan cagar budaya sejak 1990-an.
Setiap tahun di sini digelar Perang Topat. Menurut The Jakarta Post (2010), mulai sekitar pukul 16.00 pada tanggal 15 bulan ketujuh kalender Sasak (tanggal 15 bulan keenam kalender Hindu Bali), umat Hindu di sisi Gaduh dan umat Islam di sisi Kemaliq saling melempar ketupat (topat). Ketupat yang dilempar kemudian ditebar di sawah atau dibawa ke toko dan pasar sebagai doa untuk panen yang baik dan usaha yang lancar (Hindu Press International memberitakan hal yang sama pada 2011).
Menurut The Jakarta Post, arak-arakan dalam acara ini memakai kerbau, sebagai bentuk penghormatan kepada kedua pihak: sapi suci bagi umat Hindu, dan umat Islam tidak makan babi. Tanggalnya mengikuti kalender dan berubah setiap tahun, dan jadwal tahun 2026 tidak dapat kami pastikan.
Apa bedanya dengan Bali?
Bali adalah pulau dengan mayoritas Hindu, tempat sesajen di pinggir jalan menjadi pemandangan sehari-hari. Di Lombok, masjid menjadi pusat desa dan azan terdengar lima kali sehari. Di bagian barat memang ada pura Hindu, tetapi suasana pulau secara keseluruhan adalah suasana pulau Islam.
Yang paling sering memengaruhi rencana perjalanan adalah kalender. Dalam daftar libur nasional 2027 (diumumkan 15 September 2026), Nyepi, Tahun Baru Saka umat Hindu Bali, jatuh pada 8 Maret, dan Idulfitri (Lebaran) pada 10 dan 11 Maret. Menurut kalender Muhammadiyah, Ramadan dimulai pada 8 Februari 2027. Tanggal awal Ramadan versi pemerintah ditetapkan melalui keputusan Menteri Agama dan belum dapat kami pastikan per Oktober 2026.
Saat Nyepi, bandara Bali tutup dan warga dilarang bepergian, tetapi itu aturan di Bali; seperti yang sudah kami rangkum di situs ini, toko dan transportasi di Lombok yang mayoritas Muslim biasanya berjalan seperti biasa. Cara mengatur perjalanan bila kedua momen itu berdekatan dibahas di artikel tentang bepergian saat Ramadan dan Nyepi.
Apa yang perlu diperhatikan wisatawan?
Wisatawan yang bukan Muslim tidak wajib mengikuti aturan agama Islam, tetapi diharapkan menghormati kehidupan warga setempat. Tabel berikut merangkum poin pentingnya menurut situasi. Jam tutup pada hari Jumat dan selama Ramadan dibahas di panduan salat Jumat, hari libur, dan Ramadan di Lombok.
← Tabel dapat digeser ke samping
| Situasi | Yang perlu diperhatikan |
|---|---|
| Pakaian | Di dalam desa dan di dekat masjid, kenakan pakaian yang menutup bahu dan paha. Di pantai dan di dalam resor, pakaian renang umumnya tidak masalah |
| Berkunjung ke masjid | Lepas alas kaki di pintu masuk. Perempuan menyiapkan kain penutup rambut (ada masjid yang meminjamkan). Jangan memotret orang yang sedang salat. Tanyakan kepada petugas bagian mana yang boleh dimasuki |
| Azan | Terdengar lima kali sehari, termasuk sebelum subuh. Bila mudah terganggu suara, bawa penyumbat telinga |
| Jumat siang | Saat salat Jumat, warung, toko kecil, dan tempat penukaran uang bisa tutup satu sampai dua jam |
| Ramadan | Wisatawan non-Muslim tidak wajib berpuasa. Pada siang hari, batasi makan dan minum di depan umum, dan jangan menawarkan makanan kepada orang yang berpuasa |
| Minuman beralkohol | Minum di bar dan hotel di kawasan wisata. Jangan minum di tempat umum, misalnya di dekat tempat ibadah |
| Pura Hindu | Tanyakan di pintu masuk bagian mana yang boleh dimasuki dan pakaian yang sesuai. Saat upacara, jangan melintas di depan umat yang bersembahyang, dan minta izin sebelum memotret |
Patokan berdasarkan artikel-artikel di situs ini, per Oktober 2026. Aturan bisa berbeda di tiap masjid atau pura.
Perhatian
- Tanggal libur dan bulan puasa bisa bergeser sehari: pada 2027, Lebaran jatuh pada 9 Maret menurut kalender Muhammadiyah dan 10 serta 11 Maret menurut libur nasional. Bila bepergian di sekitar tanggal itu, sisakan cadangan sehari sebelum dan sesudahnya.
- Hindari berdebat soal agama: Anda mungkin ditanya soal keyakinan, tetapi sebaiknya hindari ucapan yang terdengar menilai keyakinan orang lain.
Catatan dari Sekotong
Pada Jumat siang dan menjelang magrib selama Ramadan (waktu berbuka), sopir dan pemilik perahu bisa sulit dipesan. Bila jemputan bandara atau tur pulau jatuh pada jam-jam itu, sepakati jam yang pasti paling lambat sehari sebelumnya agar tidak terburu-buru pada hari H. Saat berjalan di dalam desa, kenakan pakaian yang menutup bahu dan paha setelah naik dari pantai.
Siapa yang cocok dan kurang cocok menghabiskan waktu di pulau yang mayoritas Muslim
Kekurangannya dulu. Lombok bukan pulau tempat Anda bisa berkeliling melihat upacara pura dan sesajen setiap hari seperti di Bali. Azan subuh bisa membangunkan Anda, warung di daerah pedesaan tutup pada siang hari selama Ramadan, dan tempat minum minuman beralkohol terbatas di kawasan wisata. Bila Anda ingin berpindah dari bar ke bar sampai larut malam, atau berkeliling melihat upacara dan festival pura, Bali lebih cocok.
Sebaliknya, Lombok cocok bagi Anda yang tertarik pada kehidupan sehari-hari yang berbeda dari Bali dan pada ketenangan desa-desa Sasak. Sekotong di barat daya adalah desa nelayan tempat warga Sasak tinggal. Di desa ini, Semelar Beach Village mengelola kafe pantai (SAKURA CAFE, 10.00–22.00, tutup hari Senin), pasar, dan beach club bersama warga Sasak. Yang saat ini bisa dipesan adalah program menginap 3 malam 4 hari hingga 5 malam 6 hari.
Pertanyaan yang sering diajukan
T. Apakah di Lombok hanya ada umat Islam?
Tidak. Di tingkat provinsi pada 2024, 96,91% beragama Islam dan 2,36% Hindu. Umat Hindu di Lombok sekitar 114.000 jiwa, dan sekitar 90% di antaranya tinggal di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.
T. Apakah penganut Wetu Telu beragama Islam?
Liputan dan penelitian mengutip warga yang menyatakan menjalankan rukun Islam, dan warga yang memandang Wetu Telu sebagai tradisi Muslim; ada pula yang menyebutnya cara berpikir, bukan agama. Penelitian menggambarkannya sebagai perpaduan Islam dan kepercayaan lokal, tetapi ada penelitian yang menunjukkan bahwa pembagian sejak zaman Belanda tidak memuat sudut pandang penganutnya. Praktiknya saat ini digambarkan berbeda menurut orang dan sumbernya.
T. Bolehkah non-Muslim masuk ke masjid?
Ada masjid yang memperbolehkan. Di Islamic Center Mataram, pemberitaan tahun 2018 menyebut non-Muslim boleh masuk ke lantai dua dengan mengenakan jubah penutup tubuh. Ketentuan saat ini tidak dapat kami pastikan, jadi tanyakan kepada petugas di pintu masuk. Sebaiknya hindari waktu salat.
T. Apakah saat Nyepi di Lombok juga tidak boleh keluar?
Larangan keluar rumah adalah aturan di Bali; di Lombok, toko dan transportasi biasanya berjalan seperti biasa. Namun, karena bandara Bali tutup, perjalanan lewat Bali ikut terdampak. Pada 2027, Nyepi jatuh pada 8 Maret.
T. Apakah tetap nyaman berwisata saat Ramadan?
Bisa. Hotel dan usaha di kawasan wisata umumnya buka seperti biasa. Warung di daerah pedesaan bisa tutup pada siang hari, dan wisatawan yang tidak berpuasa sebaiknya membatasi makan dan minum di depan umum pada siang hari. Pada 2027, Ramadan dimulai 8 Februari menurut kalender Muhammadiyah, dan Lebaran jatuh pada 10 dan 11 Maret menurut libur nasional.
Ringkasan
Lombok adalah Pulau Seribu Masjid dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Nusa Tenggara Barat, provinsi tempat Lombok berada, data pemerintah tahun 2024 menunjukkan 96,91% Islam dan 2,36% Hindu, dan sebagian besar umat Hindu tinggal di Mataram dan Lombok Barat, yang pada abad ke-18 diperintah kerajaan Bali. Pura Meru dan Pura Lingsar adalah pura dari masa itu, dan di Lingsar umat Hindu dan umat Islam masih menggelar upacara bersama.
Penjelasan tentang Wetu Telu di Bayan, Lombok utara, sangat berbeda antara peneliti dan warganya sendiri. Tanggal libur dan bulan puasa berubah setiap tahun, jadi periksa kalender terbaru sebelum berangkat.
Baca juga
- Salat Jumat, hari libur, dan Ramadan di LombokKalender jam tutup dan pengaruhnya pada perjalanan
- Bisakah minum alkohol di Lombok?Harga bir, tempat membeli, dan tempat yang tidak memperbolehkan minum
- Bali atau Lombok: mana yang lebih cocok?Perbandingan tempat wisata, harga, dan budaya

SEMELAR BEACH VILLAGE
Mari menghabiskan waktu di desa Sekotong tempat kami tinggal
Sekitar 1 jam 10 menit berkendara dari Bandara Internasional Lombok. Ada program menginap mulai 3 malam 4 hari, dengan berkeliling pulau naik perahu nelayan dan menikmati matahari terbenam di SAKURA CAFE. Vila kami dijadwalkan selesai secara bertahap mulai 2027.
Sumber artikel ini
- Databoks, “96.9% of the Population in West Nusa Tenggara is Muslim” (data Kementerian Agama, 2024)https://databoks.katadata.co.id/en/demographics/statistics/b15a687e8437d5b/969-of-the-population-in-west-nusa-tenggara-is-muslim
- Databoks, “0,05% Penduduk di Kabupaten Lombok Timur Beragama Hindu” (Dukcapil per 31 Desember 2024; jumlah umat Hindu per kabupaten dan kota)https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/82dfe3ceb756e1a/0-05-penduduk-di-kabupaten-lombok-timur-beragama-hindu
- Encyclopaedia Britannica, “Lombok” (penduduk, kekuasaan Bali, dan campur tangan Belanda 1894)https://www.britannica.com/place/Lombok
- Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, “Kedepankan Keramahan Islami, Lombok Raih Gelar Destinasi Halal Terbaik Dunia” (22 Oktober 2015)https://setkab.go.id/kedepankan-keramahan-islami-lombok-raih-gelar-destinasi-halal-terbaik-dunia/
- Good News From Indonesia, “Mengapa Lombok Dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid” (23 Januari 2026; asal julukan dan jumlah masjid)https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/01/23/mengapa-lombok-dijuluki-sebagai-pulau-seribu-masjid
- NU Online, “Mataram’s religious destinations attract international tourists” (Maret 2018; Islamic Center)https://www.nu.or.id/regional/matarams-religious-destinantions-attract-international-tourists-gRERD
- tirto.id, “Pemakaman Kuno Selaparang, Jejak Kerajaan Islam di Pulau Lombok” (13 April 2023)https://tirto.id/pemakaman-kuno-selaparang-jejak-kerajaan-islam-di-pulau-lombok-gEMs
- Zaki Yamani Athhar, “Kearifan Lokal dalam Ajaran Islam Wetu Telu di Lombok”, Ulumuna Vol. IX No. 15 (2005)https://ulumuna.or.id/index.php/ujis/article/download/27/18
- VICE, “Is This Man the Leader of One of Indonesia’s Most Misunderstood People?” (3 Agustus 2017)https://vice.com/en/article/is-this-man-the-leader-of-one-of-indonesias-most-misunderstood-people
- International Islamic University Malaysia, tesis magister, “Islam wetu telu or wetu telu Muslims? : an analysis of the practitioners’ perspective” (2024)https://studentrepo.iium.edu.my/entities/publication/388eec4e-4081-4a69-9001-e077c16587a0/full
- Good News From Indonesia, “Perkembangan dan Persebaran Agama Kelompok Masyarakat Suku Sasak Lombok” (16 Oktober 2024; artikel kiriman; warga yang memegang kepercayaan sebelum Islam)https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/10/16/inilah-perkembangan-dan-persebaran-agama-kelompok-masyarakat-suku-sasak-lombok
- Badan pariwisata Indonesia, “Pura Meru Cakranegara”https://www.indonesia.travel/gb-en/destination/bali-nusa-tenggara/west-nusa-tenggara/pura-meru-cakranegara/
- CNN Indonesia, “Destinasi Wisata Mataram Siap Sambut Obor Asian Games” (22 Juli 2018; Pura Meru, Taman Mayura)https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180722170317-269-316105/destinasi-wisata-mataram-siap-sambut-obor-asian-games
- The Jakarta Post, “The battle of rice cakes” (22 Januari 2010; Pura Lingsar dan Perang Topat)https://www.thejakartapost.com/news/2010/01/22/the-battle-rice-cakes.html
- Hindu Press International, “Perang Topat” (31 Desember 2011)https://www.hinduismtoday.com/hpi/?p=10735
- Kementerian Sekretariat Negara, “Inilah SKB 3 Menteri Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027” (15 September 2026)https://www.setneg.go.id/baca/index/inilah_skb_3_menteri_libur_nasional_dan_cuti_bersama_2027
- detikNews, “Muhammadiyah Tetapkan Ramadan dan Idul Fitri 2027, Ini Tanggalnya” (20 September 2026)https://news.detik.com/berita/d-8670916/muhammadiyah-tetapkan-ramadan-dan-idul-fitri-2027-ini-tanggalnya
